Trading Sapi

Bagi rekan-rekan yang berminat untuk ikut serta dalam usaha trading sapi, dapat mengunduh proposalnya sebagai berikut :

Trading Sapi 2014

atau hubungi e-mail : efno_dfs@yahoo.com

E Farm Nusantara menyediakan kebutuhan Sapi sesuai yang anda perlukan diantaranya :

SAPI PERAH :

Sapi Perah FH Dara Siap IB

Sapi Perah FH Dara Bunting

Sapi Perah FH Produktif (Sudah Menghasilkan Susu)

Sapi Perah FH Bunting Produktif

Sapi Perah FH Anakan/Pedet (Usia di atas 4 Bulan)

Sapi Perah FH Remaja (Usia di atas 8 bulan)

Sapi Perah Afkir

SAPI POTONG :

Sapi siap potong jenis FH maupun silangan FH-simental

Sapi Potong Bakalan silangan (FH x Simental) Bobot 250-450 Kg

Sapi FH Pejantan Bobot 250-600 Kg usia di atas 18 bulan

Sapi Pedet Pejantan FH maupun FH cross (silangan FH-Simental-limousin)

Sapi Potong Idul Adha

Hubungi Nanda

081 222 48284

” Alhamdulillah, Semoga Allah SWT melindungi dan memberkahi kerja keras kita semua, aamiin “

E Farm Nusantara

E Farm Nusantara (EFNO) dimulai sejak tahun 2008, diawali dengan usaha kemitraan dengan beberapa peternak sapi perah rakyat. Dengan kandang yang sangat sederhana, milik peternak sapi perah rakyat, kegiatan EFNO dimulai dengan usaha jual-beli atau trading sapi perah bunting. Perkembangan usaha sapi perah yang sangat dinamis menjadikan usaha tersebut memberikan hasil yang cukup signifikan bagi perkembangan usaha EFNO. Akhirnya, tidak hanya melakukan usaha jual-beli saja, EFNO mulai mengadakan pembibitan dengan skala kecil, dengan jumlah ternak sapi sekitar 2 sampai 4 ekor, dimana sapi dara yang sudah siap kawin dipelihara dengan manajemen pemberian pakan yang optimal dan dikawinkan secara modern melalui teknologi Inseminasi Buatan/IB. Alhamdulillah, dengan modal pembelian sapi dara (saat itu, tahun 2008) di kisaran Rp. 7 juta – Rp. 8 juta, dengan masa pemeliharaan sekitar 4-6 Bulan, sapi-sapi tersebut berhasil ‘dibuntingkan’ oleh petugas Inseminasi dari KUD setempat. Dengan harga jual di kisaran Rp. 12 juta – Rp. 14 juta, memberikan pendapatan yang cukup baik bagi perkembangan usaha saat itu.

Alhamdulillah, melihat perkembangan usaha semakin baik, dan jumlah ternak sapi yang dipelihara semakin bertambah, dimana pada saat awal hanya memlihara 2 sampai 4 ekor sapi saja yang dipelihara, memasuki akhir tahun 2009 jumlah ‘penghuni’ kandang sudah mencapai belasan ekor. Sehingga, kami memutuskan untuk pindah kandang yang lebih layak.

Sejak tahun 2009 tersebut, EFNO tidak hanya menekuni trading dan pembibitan saja, melainkan juga memelihara sapi-sapi yang sedang produksi susu. Pada awal tahun 2010, EFNO mulai menawarkan peluang kerjasama kepada pihak luar (investor). Alhamdulillah, peminatnya cukup banyak sehingga kapasitas kandang EFNO menjadi penuh dan cukup kerepotan juga mengelola sapi dalam jumlah banyak, sementara harga jual susu di KUD di kisaran Rp. 2600 – Rp. 2900. Belum lagi kualitas konsentrat yang kurang baik dan tidak selalu stabil, tidak seimbang dengan produksi susu yang dihasilkan. Akhirnya, dengan biaya pakan yang semakin tinggi, target produksi susu tidak terpenuhi karena kualitas pakan yang dihasilkan oleh KUD sangat rendah kualitasnya. Bermacam cara kami upayakan untuk memenuhi kebutuhan gizi sapi-sapi yang sedang berproduksi, termasuk membeli sumber pakan lain yang lebih mahal seperti ampas tahu, singkong, ampas kedelai dan lain-lain.

Pada tahun 2011, merupakan tahun dengan kondisi yang kurang mendukung bagi dunia peternakan sapi perah. Dengan kualitas pakan yang buruk, ditambah harga jual susu yang sangat rendah, menjadikan banyak pengusaha sapi perah ‘banting kiri’ menjadi pengusaha sapi potong, bahkan ada yang terpakasa ‘gantung sepatu (boot)’, berhenti ngarit. Kondisi saat itu bisa dibilang stagnan, hidup segan mati pun tak mau. Masih bagus mampu bertahan dari ‘terpaan’ badai. Meski harga sapi dara dan induk sapi perah tidak mengalami penurunan tajam, namun untuk pedet (anak sapi lepas sapih) yang biasanya dijual dengan harga Rp. 3,5 juta sampa Rp. 4,5 juta bahkan ada yang mencapai Rp. 6 juta,  mendadak harganya setara dengan harga domba, yakni sekitar Rp. 1,5 sampai Rp. 2 juta. Hal ini jelas merupakan pukulan tersendiri, mengingat pedet-pedet jantan biasanya kami jual sebagai pemasukan yang cukup lumayan guna menopang biaya pakan yang semakin tinggi, sementara harga jual susu sangat rendah, paling mentok di angka Rp. 3000 per liter. Apalagi, saat itu kami menanggung biaya hidup sekitar 40-60 ekor sapi. Bisa dibayangkan betapa kerepotan kami saat itu. Namun, berpegang pada prinsip usaha, dimana ada kalanya kita untung dan ada kalanya kita merugi. Prioritas kami saat itu adalah bertahan samaksimal mungkin.

Alhamdulillah, pertahanan gerendel kami yang ala cattenaccio Italy, berhasil menahan gempuran totalfootball Belanda yang diwakili oleh kenaikan harga pakan dan harga jual susu yang rendah. Meskipun agak babak belur juga, namun perlahan kami pun bangkit kembali. Sehingga saat ini, Alhamdulillah, syukur pada Alloh, bahwasanya kami tidak lagi bergantung pada KUD untuk penjualan susu dan pakan. Harga jual susu pun meningkat menjadi Rp. 3700 per liter, dan kami jual langsung ke IPS di Jakarta menggunakan truk tanki susu sendiri. Beberapa peternak sekitar kandang bahkan ikut menjual susu pada kami, sehingga untuk saat ini setiap hari kami mampu mengirim 500-1000 liter susu. Namun, untuk menggunakan truk tanki minimal kami harus membawa sekitar 5000 liter, sehingga seringkali kami menemui kendala bahwa susu yang kurang penuh mengisi tanki menjadi berkurang kualitasnya akibat terguncang-guncang pada saat pengiriman. Saat ini, tanki tersebut kami sekat agar susu tidak berguncang pada saat dibawa.

Untuk itulah, saat ini kami membuka peluang untuk bekerjasama dengan pihak luar yang ingin memiliki usaha serupa untuk bergabung bersama kami. Tujuan kami adalah untuk meningkatkan jumlah produksi susu yang dihasilkan, sehingga kapasitas angkut truk tanki dapat optimal. Saat ini kami memerlukan tambahan sekitar 30-60 ekor sapi perah produksi guna mencapai kapasitas optimal.

Anda dapat turut bergabung, dengan memelihara beberapa ekor sapi di kandang kami dengan system bagi hasil, atau bagi yang memiliki kemampuan modal yang cukup besar dapat membangun kandang sendiri, sehingga keuntungan sepenuhnya milik Anda, adapun secara manajemen pemeliharaan dan pemasaran akan kami bantu semaksimal mungkin.

Mengingat pakan sapi sangat menentukan kualitas dan kuantitas produksi susu yang dihasilkan, maka kami pun berencana membuat pabrik pakan sapi sendiri, sehingga kendala yang dihadapi pada tahun 2011 dapat kita minimalisir kembali. Dengan kebutuhan pakan sapi di kandang dan beberapa peternak sekitarnya sekitar 30 Ton per bulan, tentu akan lebih menguntungkan jika kita kelola sendiri kebutuhan pakannya. Kebutuhan pakan tersebut tentunya akan semakin meningkat, jika saat ini sekitar 30 ton, bisa saja 2 atau 3 tahun ke depan dapat mencapai 100 ton lebih, apalagi jika semakin banyak peternak lain yang bergabung bersama kami. Karena itulah peluang tersebut sangat terbuka lebar.

Semoga, dengan pengalaman dan ujian yang sudah kami lalui menjadikan usaha tersebut menjadi jauh lebih maju dan berkembang. Semoga semakin banyak peternak-peternak baru yang bermunculan, sehingga produksi susu sapi secara Nasional meningkat, dan mengurangi ketergantungan pemerintah akan susu sapi dari luar negeri. Paling tidak ikut menggairahkan usaha peternakan sapi perah yang masih memiliki potensi yang sangat besar. Dan menjanjikan masa depan yang cukup baik, InsyaAlloh.

Mudah-mudahan Anda dapat ikut serta menjadi bagian dari perjalanan E Farm Nusantara, dan bersama-sama membangun usaha peternakan sapi perah untuk lebih maju dan berkembang lagi.

Mimpi tidaklah dibangun dengan khayalan dan rencana tanpa realisasi, namun dengan melangkah. Meski hanya mengayunkan satu langkah, namun lebih berarti daripada segudang rencana tanpa aksi. U Win U Learn, U Fail U learn. ” Farmer.

Terima Kasih

Hatur Nuhun

E Farm Nusantara

Welcome 2014

Selamat datang kami ucapkan di Blog-Farm kami, E-Farm Nusantara Organization (EFNO) dimana merupakan suatu bentuk usaha pembibitan dan peternakan sapi perah (Breeding & Dairy Farm) yang dikelola secara semi-profesional dengan melibatkan beberapa orang yang sangat loyal dalam pekerjaan guna mewujudkan peternakan yang mandiri (modern) dan maju.

Kami menyadari betapa banyak kekurangan yang kami hadapi dalam rangka mewujudkan usaha peternakan yang modern dan menguntungkan secara bisnis. Tapi kami yakin dengan idealisme yang kami miliki, kami dapat menciptakan suatu peternakan sapi perah maupun pembibitannya secara berkelanjutan (sustainable). Karena kami menyadari, pada lingkungan kerja kami banyak sekali para peternak lokal yang menjalankan usahanya memelihara sapi perah dengan kondisi yang kurang baik, sehingga pada akhirnya secara ekonomis kurang menguntungkan.

Hal ini diakibatkan kualitas sapi perah di Indonesia dari tahun ke tahun yang semakin menurun, akibat dari pola perkawinan yang acak-acakan, sehingga memungkinkan terjadinya perkawinan sedarah (inbreeding). Hal ini diakibatkan oleh ulah peternak sendiri yang tidak mau repot dengan pencatatan silsilah sapi-sapinya, sehingga tidak mengherankan terjadi inbreeding.

Oleh karena itulah, dalam visi kami ingin mewujudkan suatu peternakan yang berkelanjutan dengan melakukan disiplin secara ketat melalui pola pembibitan dan pemeliharaan ternak secara terpadu, diantaranya adalah dengan melakukan sistem pencatatan (recording) yang jelas, akurat dan disiplin, penyeleksian induk yang berkualitas secara ketat, inseminasi buatan maupun embrio transfer, manajemen pemeliharaan yang menunjang pada usaha peternakan sapi perah yang menguntungkan (profitable).

Dengan demikian, harapan dan cita-cita kami untuk dapat mewujudkan tersedianya sapi perah lokal (adaptif) yang memiliki kualitas dan kuantitas susu yang dihasilkan menjadi lebih baik. Sehingga, pada akhirnya akan memberikan nilai tambah pada usaha peternakan itu sendiri dan membantu pemerintah guna mengurangi ketergantungan susu segar dari negara lain, dimana sampai saat ini tidak kurang dari 70% kebutuhan susu sapi dalam negeri dipenuhi melalui keran import.

Kami ingin bermimpi suatu saat nanti, Indonesia tidak lagi melakukan impor besar-besaran susu sapi dari Negara lain, dan tidak lagi mendatangkan ratusan ribu ekor sapi potong Brahman Cross dari Australia tiap tahun, namun kita mampu memenuhi kebutuhan susu segar dan sapi potong dari dalam negeri sendiri dengan memberdayakan peternakan rakyat yang ada di Indonesia.

Peternakan sapi perah dan potong di Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Mengingat pangsa pasar dalam negeri saja sudah sangat terbuka. Mengapa potensi tersebut belum mampu membangkitkan dunia peternakan di Indonesia? Karena peternakan sapi perah rakyat dikelola apa adanya, banyak peternak yang memelihara ternak sapi perah dengan kualitas yang buruk serta manajemen pemeliharaan ala kadarnya, sehingga kualitas dan kuantitas susu yang dihasilkan sangat rendah. Banyak peternak yang menganggap sapi perahnya hanya sebagai tabungan semata dan memerah susu dianggap sebagai kerja sampingan saja, sehingga secara bisnis kurang menguntungkan. Tidak mengherankan apabila banyak peternak tradisional masih memelihara sapi dengan produksi susu harian di bawah 10 liter per ekor per hari. Hal ini jelas sangat merugikan peternak sendiri karena kurang mendapatkan hasil yang memuaskan, karena manajemen yang dijalankan asal-asalan maka hasilnya pun ala kadarnya. Maka jangankan berkembang, untuk bertahan pun sudah kepayahan, sehingga banyak peternak lebih memilih menjual sapi mereka dan menggantinya dengan motor kreditan, dan beralih profesi menjadi tukang Ojeg.

Sungguh sangat memprihatinkan, apabila keadaan ini terus berlanjut, maka mungkin saja anak-cucu kita nanti tidak akan pernah melihat sapi perah pernah ada di Indonesia. Untuk melihat sapi perah harus ke Australia atau Belanda yang memang nenek moyang bangsa sapi perah (Frissien Holstein) yang ada di Indonesia saat ini asalnya dari sana, dimana lebih dari 150 tahun yang lalu dibawa oleh bangsa Belanda sewaktu menjajah negeri kita tercinta.

“ Ah, gampang tinggal import saja, khan beres, gitu aja kok repot? ” :D (Typical Bangsa Pemalas, segalanya ingin instant).

Baru-baru ini pemerintah mendatangkan sapi perah jenis Frissien Holstein asal Australia, dengan tujuan untuk meningkatkan populasi sapi perah berkualitas yang ada di Indonesia. Namun berapa banyak sapi perah asal Australia tersebut begitu dibawa ke Indonesia tidak mampu bertahan dan kurang mampu beradaptasi dengan cuaca dan iklim yang baru, sehingga harus direlakan masuk RPH (Rumah Potong Hewan), padahal harganya lebih dari 3 x lipat harga sapi perah local, dan itu akan dibeli peternak dengan system kredit. Meskipun tidak semuanya masuk jagal, beberapa ekor sapi mampu bertahan, namun kualitas dan produksi susu yang dihasilkan sudah tidak optimal lagi.

Kalau kita bandingkan dengan Bangsa Korea, dimana 50 tahun yang lalu mereka memiliki sapi potong lokal yang hanya memiliki bobot hidup tak lebih dari 350 Kg, dan kini atas kerja keras mereka bobot hidup sapi-sapinya mampu mencapai 800 Kg sampai 1 Ton lebih. Ketika ditanya teknologi apa yang dipergunakan, jawabannya adalah recording yang akurat dan berlanjut, seleksi ketat induk, inseminasi buatan, dan manajemen pemeliharaan yang baik. Teknologi tersebut sudah dikenal oleh Bangsa Indonesia 50 tahun yang lalu juga dan sudah menghasilkan guru-guru besar serta Profesor di bidang peternakan. Cuma sayang, ternak dan peternaknya nasibnya masih sama seperti 50 tahun yang lalu.

Last but not least, Pepatah Arab mengatakan bahwa Negara yang kaya ternak tidak akan pernah miskin, Negara yang miskin ternak tidak akan pernah menjadi kaya (Campbell & Lasley, 1985). Pepatah ini terbukti benar, Negara maju memiliki sumber daya alam yang menunjang peternakan, secara umum memiliki ternak dalam jumlah besar, dan pada umumnya berswasembada ternak. Australia, Selandia Baru, Inggris, Jerman, Amerika Serikat, dan negara maju lainnya merupakan negara dengan basic peternakan yang kuat. Australia memiliki ternak sapi lebih dari 26 juta ekor, bandingkan dengan Indonesia yang memiliki ternak sapi tak lebih dari 300.000 ekor. Jerman saja yang luas negaranya tak lebih besar dari pulau Jawa memiliki jumlah ternak sapi lebih dari 3 juta ekor. Jika kita tidak mampu menciptakan keunggulan komparatif yang menunjang peternakan di masa depan, Indonesia akan tetap menjadi negara yang miskin ternak, negara yang miskin ternak seperti pepatah di atas tidak pernah menjadi negara kaya.

Apabila kita memulai dari sesuatu yang kecil dan tidak terlalu muluk-muluk serta bersama-sama membangun cita-cita dan harapan tersebut di atas, kami yakin kita semua pasti mampu untuk mewujudkannya. Namun kita harus mulai dari sekarang untuk in action !!! Dengan kemampuan dan kekuatan yang kita miliki. Kami sudah memulainya, dan kini menanti jabatan erat tangan anda untuk ikut bergabung mewujudkan mimpi tersebut, mimpi peternak di Indonesia yang juga mimpi Indonesia.

Untuk itu, kami mengajak rekan-rekan yang merasa tertarik dan antusias memiliki usaha pembibitan dan peternakan sapi perah untuk bergabung bersama kami. Anda akan memiliki pengalaman yang berbeda dan unik karena kerjasama tersebut sangat berkaitan erat dengan alam dan kehidupan, back to nature, jadi tidak hanya sekedar deretan angka-angka yang berseliweran di depan komputer yang anda amati selama ini, atau angka-angka yang tercetak pada buku tabungan anda di bank. Pada usaha ini, anda akan merasakan pertumbuhan dan perkembangan sapi-sapi anda, bagaimana sapi-sapi tersebut melahirkan, beranak, dan menghasilkan susu.

Kami ingin berbagi pengalaman menyenangkan tersebut dengan anda …

Bagaimana caranya untuk dapat bergabung bersama EFNO ?
Untuk dapat bergabung pada program Tabungan Sapi, anda minimal harus melakukan investasi berupa seekor sapi perah laktasi (sudah menghasilkan susu) dan sapi-sapi tersebut akan kami pelihara di kandang kami dan akan kami perlakukan sesuai manajemen pemeliharaan sapi perah yang baik, hanya sapi-sapi berkualitas yang akan kami pelihara nantinya. Untuk lebih jelasnya silahkan download/unduh proposalnya. Atau Klik Link Berikut ini Proposal Sapi Perah 2014

Kalau berminat, kami juga membuka peluang untuk bekerjasama dalam usaha trading atau jual beli sapi dengan perputaran modal yang lebih cepat dan memberikan hasil yang lebih baik dengan tingkat resiko yang relatif jauh lebih kecil.

Proposal Trading Sapi 2014

Semoga kita dapat melakukan kerjasama usaha dengan baik dan lancar, serta mendapatkan ridho Alloh SWT. Aamiin.

 

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan anda menghubungi kami via e-mail di

efno_dfs@yahoo.com

atau Tlp. 081-222-48284  ( Nanda Nurdiansyah )

Terima Kasih

Tabungan Sapi

Saat ini, dulu, atau mungkin nanti, permasalahan modal selalu menjadi hambatan bagi kita untuk mewujudkan keinginan menjadi seorang pengusaha. Dalam benak kita, seorang pengusaha tentulah harus bermodal besar. Jika kita tidak memiliki modal, maka segala mimpi kita akan kita tunda. Sementara waktu terus berjalan dan umur kita semakin bertambah, sementara kita masih saja menggantungkan mimpi dan harapan kitla untuk menjadi seorang pengusaha ataupun memiliki suatu usaha yang profitable. Tentu, kita jadi berfikir bahwa modal adalah segalanya. Read the rest of this entry

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.